Kamis, 10 Desember 2009

dampak didikan keras pada anak

Hari ini ada hal yang membuat saya agak terheran heran dengan kelakuan adik saya yang berusia 7 tahun. Merusak barang, ngumpetin trus berbohong sama mama. Hal yang juga biasa saya lakukan dulu waktu kecil, bahkan mungkin hingga sekarang. Melakukan kesalahan dan sembunyi tangan. Takut pastinya, takut dimarahin mama.Padahal kita sering di dengung dengungkan kalo bohong itu dosa dan hukumannya nanti lidahnya dipotong di akhirat, serem banget kan… tapi untuk sat itu hal yang lebih menakutkan adalah dimarahin mama apalagi kalo sampe di cubit, hhmmm … urusan akhirat nggak lagi kepikiran.

Lenapa harus berbohong, kenapa nggak coba untuk tanggung jawab. Kenapa seseorang apalagi seorang anak menjadikan orang tua mereka sebagai sosok yang menakutkan. Bukannya orang tua seharusnya menjadi sosok yang di kagumi dan menjadi role model.

Semua mengingatkan saya pada beberapa waktu yang lalu, entah medengar di TV atau mendengan seseorang bicara saya tidak ingat. Yang pasti kata kata yang menempel di ingatan saya hingga saat ini adalah “anak yang dididik di lingkungan atau dengan kekerasan akan membentuk pribadi pembohong pada si anak”. Awalnya saya tidak menghiraukan karna saya belum menikah dan memiliki anak jadi yaa saya merasa belum ada tanggung jawab untuk concern terhadap hal hal yang berbau anak. Tapi mendapati adik saya melakukan hal seperti itu membuat saya sedikitna penasaran dan ikut bertanggung jawab untuk membentuk pribadi yang lebih baik bagi adik saya kedepannya.

Sepertinya gaya mendidik dengan keras memang sangat ngetren dilakukan para orang tua, wajar sihh… anak kecil memang ngeselin buat emosi naik. Tapi apakah harus di bentak bentak apalagi sampai di pukul. Malah sampai banyak yang meninggal dunia.
Penyiksaan anak (child abuse) malah terjadi sepanjang tahun. Bahkan UNICEF pada 2003 melansir laporan sebanyak 3.500 anak berusia kurang dari 15 tahun tewas setiap tahun akibat perlakukan kejam.1
Cukup mencengangkan bukan?? Apalagi tahun tahun belakangan ini yang makin marak… bahkan brutal. Bahkan saya baru saja nonton berita yang isinya seorang ayah membanting anaknya sendiri hingga mati dan hanya dihukum 15 th penjara. Mirisss…..
Mungkin kita bisa meniru peraturan yang ada di beberapa negara tetangga.
Child Right Information Network–sebuah organisasi yang peduli pada nasib anak-anak– memaparkan pemukulan terhadap anak-anak (baik dengan tangan, ikat pinggang, tongkat, atau sepatu), menendang, melempar, mengguncang-guncangkan tubuh anak, mencakar, menggigit, menyuruh anak diam dalam posisi yang membuatnya tidak nyaman, bila terjadi di Eropa dapat dikenai tuduhan melakukan tindakan kriminal. Austria, Denmark, Finlandia, Islandia, Jerman, Norwegia, dan Swedia memiliki UU yang melarang keras penyiksaan fisik terhadap anak-anak.1

Hhmmm pantes norwegia memiliki tingkat child abuse end up with death yg rendah according to UNICEF. Kalo mencubit anak dikenakan hukum penjara, bisa bisa penjara penuh ibu ibu hehe….

Bagaimanapun, seorang anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Oleh karna itu pastinya jika orang tua si anak sering memukul, bukan tidak mungkin dia akan gemar berkelahi di kemudian hari. Jadi apa yang harus dilakukan jika anak membuat kesal. Kedekatang antara kedua belah pihak mungkin akan sangat membantu sehingga orang tua kan mengerti kedaan si anak dan mempelajari bagaimana harus mendidik si anak. Dengan mencoba mempelajari apa yang salah ketika mama saya mendidik adik saya dan memcoba memposisikan saya sebagai adik saya (saya juga seorang anak, jadi gak mudah memposisiskannya). Saya mempelajari apa yang saya mau jika orang tua saya menegur saya ketika saya melakukan kesalahan. Dan saya coba memposisikan menjadi seorang ibu yang ingin mendidik tapi dengan cara yang kiranya baik untuk si anak. Yang saya coba lakukan:
1. Mencoba menegur tanpa membentak ketika adik saya melakukan kesalahan. Misalnya merusak barang saya, walaupun kesal pastinya… harus extra sabar…
2. Meminta mereka bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Misal ketika rumah berantakan karna mainan mereka, saya coba berkata “dek, habis main beresin lagi yah mainannya.. biar nggak berantakan. Susah kan jalannya” saya pun ikut mencontohkan dengan membantu membereskan. Dan berikutnya saya mengingatkan untuk membereskan mainannya sebelum dia mulai bermain.
3. Yang pasti tidak pernah memukul dan berkata kasar.
4. Mungkin inti dari semuanya adalah introspeksi diri, mungkin kita (saya belum sih hehe…) kadang atau bahkan sering bersikap kasar sehingga anak suka berbohong ataupun berbuat nakal. Sadari dan perbaiki… kalo marah tarik nafas dalam dalam biar agak tenang.
5. Dan jangan pernah memarahi anak tanpa alasan ataupun menuduh mereka berbohong tanpa bukti. Kadang ketika ada barang hilang, orang tua suka seenaknya nuduh si anak…
6. Jangan langsung marah ketika mendapati si anak melakukan kesalahan, misal berbohong. Pahami alasannya karna mungkin mereka berbohong karna takut dimarahi dengan kasar. Atau istilahnya menghindari resiko lebih besar. Coba untuk memberi pengertian dengan tanpa membentak might be wise.
Jadi yah… pastinya parenting sangat penting dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi berusahalah menjadi role model yang baik bagi si anak. Bagaimanapun pribadi anak yang baik adalah keberhasilan bagi orang tua.

Source: 1. BERANDA Kemarahan Orang Tua Pengaruhi Sikap Anak, posted on Januari 15th, 2009 in Psikologi Anak by Fitri (duniapsikologi.dagdigdug.com)
2. Parenting as a role – tips bagi orang tua menhadapi anak berbohong, posted on Friday, 20 March 2009 22:14 Pdt. Supriyono Sarjono